Live streaming sebagai alat pemasaran yang sedang naik daun

Ditulis oleh Fany | Read in English

Seiring berkembangnya teknologi, live streaming mencatatkan pertumbuhan yang mengesankan. Saat ini, miliaran orang dari seluruh dunia telah menonton video streaming langsung dari perangkat mereka, di mana saja dan kapan saja. Ketika acara live terhenti karena pandemi COVID-19, live streaming menggantikannya.

Menurut Statista, pengguna di seluruh dunia menghabiskan lebih dari 480 miliar jam menonton konten live streaming di aplikasi seluler pada 2020.

Alasan di balik popularitas live streaming yang luar biasa ini adalah keterlibatan waktu nyata hingga ribuan orang di seluruh dunia. Dengan begitu, streamer dapat berinteraksi dengan penontonnya melalui chat langsung dan membuatnya sangat menarik untuk ditonton.

Alasan penting lainnya yang membuat live streaming terbang tinggi adalah efektivitas biayanya. Hal-hal yang diperlukan untuk streaming, terutama teknologi, dapat diakses dan harganya terjangkau. Meskipun tokoh publik dan bisnis dapat berinvestasi dalam peralatan berkualitas tinggi, streaming dengan peralatan dasar mungkin dilakukan. Belum lagi, live streaming mudah dimonetisasi.

Tetapi, tren live streaming tidak dimulai karena mandat tinggal di rumah. Pandemi hanya mempercepat pertumbuhan lanskap live streaming yang ada, yang telah menjadi cara populer untuk terlibat dengan tokoh publik, menghadiri acara virtual, menonton konten video game, dan, baru-baru ini, menemukan produk melalui belanja langsung.

Sebagai sebuah industri, live streaming bernilai miliaran dolar dan diperkirakan akan naik menjadi $330,51 miliar pada 2030, berdasarkan sebuah studi oleh Grand View Research. Lantas, bagaimana munculnya industri besar ini?

Menurut Restream, era yang sekarang disebut sebagai “The Internet Explosion” adalah dekade 1990-an dan 2000-an. Orang-orang mulai terbiasa dengan Internet dan menemukan dunia informasi dan hiburan baru melalui komputer. Dengan lahirnya Internet, konten live streaming muncul. Namun, bentuknya bukan stream 24/7 yang berkelanjutan seperti yang kita lihat sekarang. Sebagian besar, live streaming adalah siaran acara tunggal.

Yang mengejutkan, live streaming pertama adalah konser yang diadakan pada 1993 ketika masyarakat masih menggunakan VHS untuk menonton film di rumah. Saat itu, beberapa ilmuwan dan insinyur komputer dari sebuah perusahaan bernama Severe Tire Damage melakukan pertunjukan rutin mereka.

Suatu hari, rekan-rekan mereka di Xerox PARC, sebuah perusahaan penelitian dan pengembangan di California, memutuskan untuk mencoba teknologi baru. Mereka menyiarkan pertunjukan yang bisa disaksikan hingga ke Australia. Itu menjadi live streaming pertama yang menggunakan audio dan video. Live streaming itu memiliki resolusi 100 baris dan kecepatan bingkai lambat, 4 per detik, dan bahkan menghabiskan hampir setengah dari seluruh kapasitas maksimum Internet.

Dua tahun kemudian, perusahaan internet RealNetworks mengembangkan pemutar media pertama yang mampu melakukan live streaming, RealPlayer. Mereka juga melakukan siaran langsung publik pertama, yang merupakan pertandingan bisbol antara New York Yankees dan Seattle Mariners.

Pada 1996, ada lagi konser live streaming dan merupakan siaran video berskala besar pertama, Tibetan Freedom Concert. Para pemusik top tahun 90-an, seperti The Beastie Boys dan Rage Against The Machine, menjadi headline konser dan ditampilkan dalam live streaming tersebut.

Sebelum live streaming benar-benar populer, webcast kepresidenan pertama diadakan di Universitas George Washington di Washington DC. Webcast "Third Way Politics in the Information Age" menampilkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan lebih dari 50.000 pengguna masuk ke diskusi daring melalui obrolan.

Beberapa tahun kemudian, YouTube menyelenggarakan siaran langsung pertamanya, YouTube Live. Acara yang diadakan pada 2008 tersebut menampilkan wawancara dan pertunjukan dari superstar seperti Katy Perry dan MythBusters, dari San Francisco dan Tokyo pada waktu yang sama. Meskipun dianggap sukses, YouTube Live masih merupakan acara tunggal. Tak lama kemudian, YouTube mulai mengembangkan teknologi live streaming-nya sendiri. Pada akhir 2013, setiap pengguna terdaftar dapat melakukan live streaming di YouTube.

Kemudian, muncullah platform yang sekarang kita kenal untuk streaming game, Twitch. Twitch diluncurkan pad 2011 dan sebelumnya dikenal sebagai Justin.tv. Saat itu, Twitch terlihat tidak menguntungkan. Namun, hanya dalam dua tahun, Twitch memiliki lebih dari 45 juta penonton per bulan. Kesuksesan tersebut menjadi titik balik lain dalam sejarah live streaming.

Pindah ke platform-platform media sosial terbesar di dunia, Twitter mengakuisisi platform live streaming Periscope, diikuti oleh Facebook dan Instagram yang meluncurkan layanan live streaming pada 2016.

Seperti yang kalian lihat, live streaming telah bekembang dan dapat diakses penuh. Live streaming menjadi salah satu bentuk komunikasi, hiburan, dan bahkan strategi pemasaran yang menonjol, yang digunakan oleh individu hingga perusahaan besar. Live streaming telah mengubah cara bisnis berbicara kepada pelanggan mereka karena memberikan jendela yang lebih jelas ke dalam produk atau layanan. Para pelaku bisnis dapat memberikan sneak peek, promosi, dan demonstrasi produk, bahkan menyiarkan acara atau kolaborasi dengan influencer.

Instagram adalah salah satu media sosial paling populer yang digunakan untuk live streaming dengan lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan. Sebuah survei tahun 2021 dari Hootsuite menunjukkan bahwa penayangan video mencapai 92% dari pengguna Internet di seluruh dunia, dan live streaming menempati urutan ke-4 dalam popularitas.

Sementara, TikTok saat ini sedang mencuat dengan fitur live streaming-nya. Sepertinya TikTok ingin membuat live-stream commerce menjadi sebuah tren. Bahkan, aplikasi saudaranya di Cina, Douyin, telah bertransformasi dari platform video pendek menjadi mesin penghasil uang bagi pembuat konten. Pada 2021, Douyin menghasilkan penjualan produk senilai $119 miliar melalui live broadcast.

Pada Juli 2022, TikTok menugaskan survei baru oleh Ipsos untuk memberikan lebih banyak perspektif tentang mengapa perusahaan harus menggunakan perdagangan live streaming-nya. Studi itu menemukan bahwa:

  1. 1 dari 5 pengguna live streaming menonton TikTok Live, dan dari kelompok itu, 62% menontonnya setiap hari.

  2. Pengguna di TikTok 50% lebih tertarik pada konten LIVE bermerek daripada non-pengguna TikTok.

  3. TikTok Live sangat bagus untuk mendorong kesadaran dan penjualan, dan 50% pengguna TikTok telah membeli sesuatu setelah menonton TikTok Live.

E-commerce juga telah bergabung dengan tren ini. Shopee, Lazada, dan Tokopedia menunjukkan peningkatan penggunaan fitur live streaming di Indonesia. Selama festival akhir tahun, musim liburan, dan “tanggal kembar”, live streaming akan sangat membantu meningkatkan transaksi.

Dilansir dari Kompas, ada fenomena belanja saat “tanggal kembar” di Indonesia karena “tanggal kembar” dianggap sebagai sesuatu yang istimewa. Oleh karena itu, e-commerce dan jenama banyak melakukan promosi atau memberi banyak keuntungan pada “tanggal kembar”. Bahkan, salah satu “tanggal kembar”, 12.12, disebut HARBOLNAS atau Hari Belanja Online Nasional untuk orang Indonesia.

Live streaming juga telah membuat budaya selebriti Internet meledak di Cina, di mana ketenaran diubah menjadi uang dengan kecepatan yang menakjubkan. Bahkan, ada banyak agensi untuk penyiar live streaming di negara itu. Agensi-agensi ini akan melatih penyiar mandiri tentang tata rias, pertunjukan, interaksi dengan penonton, dan bahkan membantu mereka dengan mendukung acara mereka. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan komunitas yang aktif untuk setiap penyiar dan menghasilkan pendapatan dari hadiah virtual yang disumbangkan pemirsa.

Dengan melihat performa live streaming akhir-akhir ini, layakkah untuk dicoba?

Jenama-jenama lokal Indonesia telah memasuki perdagangan live-stream; salah satunya Fayt. Sejak live streaming menjadi tren, jenama yang mengkhususkan diri pada alas kaki wanita ini pun langsung bergabung, mulai dari Shopee Live hingga TikTok Live. Namun, hanya karena kita telah melakukan live streaming untuk bisnis, bisakah kita berharap untuk pasti mendapatkan kinerja yang baik? Jawabannya adalah tidak. Menurut Fayt, perusahaan perlu melakukan upaya untuk meningkatkan konversi jenama.

“Awalnya, lalu lintas sangat lambat dan akan selalu seperti itu jika tidak rutin,” kata Fernando Kose, manajer pemasaran Fayt.

“Kami mendapat bocoran dari seorang influencer bahwa kalau kami ingin meningkatkan lalu lintas live streaming kami di TikTok, kami harus berkomitmen untuk melakukan siaran 4 jam per hari. Jadi, kami berusaha sering siaran selama 1-2 jam berturut-turut, tetapi tidak setiap hari,” tuturnya.

Hetty Awi, co-founder 3MONGKIS, jenama yang mengkhususkan diri pada pakaian, mengatakan hal yang sama. Berkomitmen dalam live streaming adalah salah satu kunci untuk mendapatkan keterlibatan dengan audiens.

“Kami sudah mulai melakukan live streaming sejak pandemi, jadi sudah 1 sampai 2 tahun, karena toko offline kami tutup. Karena Instagram memiliki fitur live, kami menggunakannya sebagai platform lain untuk menjual produk kami. Setelah 1 hingga 2 bulan, kami sudah mendapatkan audiens kami sendiri,” kata Hetty.

“Biasanya, 3MONGKIS siaran langsung di e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia, tapi kadang-kadang. Secara rutin kami melakukan live streaming di Instagram, 5 kali seminggu, dan 4 kali seminggu di TikTok karena kami baru masuk bulan lalu,” tambahnya.

Bisnis juga dapat menggabungkan strategi pemasaran lain untuk meningkatkan penjualan mereka. Misalnya, Fayt menarik audiens dengan memberikan diskon besar, harga khusus, atau voucher ekstra, terutama selama “tanggal kembar”. Namun, Fernando mengatakan, laku atau tidaknya suatu produk bisa dipengaruhi oleh jenis khalayaknya.

“Saya kira Shopee Live dan TikTok Live lebih cocok untuk barang-barang yang terjangkau karena penontonnya kemungkinan besar adalah pembeli impulsif yang menonton langsung, melihat barang-barang lucu, dan langsung membelinya, apalagi kalau murah seperti di bawah Rp100.000,” jelasnya.

Felia Aldisa, seorang mahasiswi di Jakarta, bisa merasakannya. Dia dulunya adalah pembeli impulsif setelah menonton TikTok Live, di mana dia akan membeli berbagai barang yang tidak dia butuhkan.

“Saya membeli beberapa barang di TikTok Live yang sangat acak, seperti sabun deterjen Cina, dispenser, tempat penyimpanan rempah-rempah, dan karpet yang terbuat dari bulu. Semuanya terlihat menarik dan harganya di bawah Rp100.000,” kata Felia.

Tapi, bukan berarti produk dengan harga lebih tinggi tidak laku. Alas kaki Fayt memiliki kisaran harga mulai dari Rp199.000 dan masih tetap laku. Kuncinya adalah mencoba cara lain melalui live streaming yang berkolaborasi dengan influencer.

“Akhir-akhir ini kami melakukan live streaming di TikTok, tapi pembawa acaranya bukan Fayt. Kami bekerja sama dengan seorang influencer. Kalian harusnya sudah pernah dengar karena dia sangat terkenal, Natasha Surya. Jika kami live dengan Natasha, feedback-nya sangat bagus karena banyak produk kami yang terjual. Juga, kami pasti mendapatkan lebih banyak imbal hasil,” kata Fernando.

3MONGKIS memiliki pendekatan yang berbeda, yaitu membangun audiens mereka sendiri, yang sesuai dengan visi dan misi mereka, di TikTok seperti yang mereka lakukan di Instagram. Jadi, meski harga produknya berada di kisaran Rp300.000-Rp 600.000, tidak masalah untuk tetap melakukan TikTok Live.

“Karena produk kami berkelanjutan, yang berarti kami membuatnya tahan lama, ada harga yang harus dibayar. Dengan cara lain, kami tidak membuat produk kami sesuai dengan pasar secara keseluruhan, tetapi kami menarik audiens kami. Meski saat ini pasarnya belum besar, tapi pasti ada,” kata Hetty.

Sepertinya live streaming untuk bisnis layak untuk dicoba. Perusahaan juga dapat memilih platform mana yang paling sesuai untuk produk mereka untuk mendapatkan konversi terbaik. Dengan pesatnya pertumbuhan Internet, dan 5G sudah ada, tidak ada alasan yang jelas untuk menghentikan pertumbuhan live streaming di masa mendatang. Perusahaan media sosial besar memonopoli komunikasi Internet, tidak terkecuali live streaming.

Kebanyakan orang cenderung mencari apa yang sedang tren saat ini, dan konten langsung membuatnya makin menarik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa live streaming akan berkelanjutan. Selain itu, pasar live streaming global diperkirakan akan mencapai lebih dari $180 miliar pada 2027, menurut Grand View Research.


Artikel terkait


Berita terkini