Nama samaran sebagai perisai media sosial

Read in English

“Kayu dan batu bisa mematahkan tulang, tetapi kata-kata tidak akan menyakitiku.”

Ungkapan itu mungkin tidak lagi benar karena di zaman modern ini, ucapan digital dapat menyakiti kita lebih dari yang kita kira.

Meski menyediakan banyak kemudahan, Internet juga memungkinkan jenis serangan baru melalui media online yang dapat menyebabkan kerugian mental, fisik, bahkan ekonomi. Dengan berita palsu, fitnah, dan cancellation terjadi setiap hari, sekarang ada kebutuhan untuk perlindungan dari serangan online seperti itu.

Bagaimanapun, Internet adalah ruang tanpa hukum, membuat imbauan naif kepada masyarakat untuk melihat sesuatu tanpa dibatasi gender atau ras atau untuk tidak memfitnah atau mendiskriminasi online terbukti tidak berhasil karena berbagai alasan. Di sisi lain, mengandalkan para raksasa teknologi untuk menerapkan sensor tidak efektif. Selain karena volume serangan yang sangat besar, hal tersebut secara moral tidak tepat karena menyerahkan kekuasaan ke platform ini untuk mengatur pendapat khayalak umum sama saja memberi mereka kuasa untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah.

Identitas asli di Internet mengungkapkan berbagai informasi pribadi; mencantumkan nama sama saja dengan mengungkapkan pekerjaan, lokasi, lingkaran sosial, bahkan status pajak dan informasi pribadi lainnya yang bersifat sensitif. Tidak hanya itu, para penyerang juga bisa menarget anggota keluarga, teman, dan lingkaran sosial seseorang, menyebabkan kerusakan lebih parah. Pepatah Internet Hukum Brandolini menyatakan, "Jumlah energi yang dibutuhkan untuk menyangkal fitnah lebih besar daripada membuatnya." Ini berarti bahwa serangan terhadap media sosial kita berarti serangan ke seluruh jaringan sosial kita, terlepas dari apakah serangan tersebut benar atau tidak.  

Kerentanan media sosial ini pada akhirnya membuat orang-orang enggan untuk mengungkapkan pendapat yang tidak sejalan dengan pandangan arus utama, menekan pikiran mentah dan nyata karena takut di-cancel oleh massa online. Tidak mengherankan bahwa sekarang kita memiliki fenomena seperti Finsta di mana masyarakat menggunakan akun Instagram palsu untuk mengekspresikan pikiran mereka yang sebenarnya daripada di akun asli mereka - diri palsu dengan identitas asli dan diri asli dengan identitas palsu.

Masuklah Identitas Samaran (Pseudonim) sebagai alternatif.

Apa itu Identitas Samaran

Pertama, kita perlu membedakan nama samaran dari anonimitas. Meskipun keduanya menawarkan lapisan perlindungan dari pembunuhan karakter online, identitas anonim tidak bertahan lama, tidak memiliki sejarah dan akuntabilitas, serta sering digunakan sebagai suatu identitas yang bisa dibuang. Sebaliknya, identitas samaran mempertahankan pencitraan dan reputasi yang konsisten, contohnya akun Twitter atau Reddit dengan avatar dan alias.

Identitas samaran tidak dimaksudkan untuk kegiatan kriminal. Ketika identitas samaran dicurigai melakukan pelanggaran hukum, informasi sang pemilik identitas dapat diakses oleh penegak hukum melalui protokol yang benar. Meskipun hukum Indonesia tidak menganggap identitas samaran ilegal, setiap aktivitas kriminal yang dilakukan dengan identitas samaran masih tunduk pada hukum yang tertuang dalam UU 2008 ITE - Bagian VII. Pada pemilihan umum 2019, sejumlah pengendali akun media sosial ditangkap oleh Unit Kejahatan Siber bukan karena menggunakan nama samaran, tetapi karena melakukan aktivitas kriminal, seperti menyebarkan informasi palsu dan fitnah, menggunakan akun samaran.

Identitas samaran memungkinkan setiap orang untuk memilih identitas yang memiliki tujuan tertentu; dipilih, bukan diberikan. Balaji Srinivasan, mantan CTO Coinbase dan pendukung ekonomi pseudonim, memberi contoh tiga identitas online terpisah. Satu untuk keperluan pribadi, satu untuk mencari nafkah/bekerja, dan satu lagi untuk berpendapat (identitas samaran). Ketiga identitas tersebut harus disangga secukupnya agar tidak menimbulkan risiko korelasi dan kerusakan tambahan.

Lapisan identitas samaran dapat dipilih agar sesuai dengan tujuan kita. Identitas samaran yang dirancang dengan baik setidaknya harus mempertahankan profil, avatar, ide, produk, pengalaman, sejarah, dan catatan. Hal-hal seperti fisik, sejarah pribadi, pekerjaan, pandangan politik, agama, ras, dan pendidikan sepenuhnya opsional. Ini memungkinkan setiap individu untuk memiliki kendali penuh atas identitas mereka.

Identitas Samaran Menjadi Semakin Relevan

Identitas samaran bukanlah sesuatu yang baru; sepanjang sejarah, identitas samaran telah digunakan untuk melindungi berbagai gagasan.

Salah satu contoh awal adalah warga negara Belanda bernama Eduard Douwes Dekker. Setelah menyaksikan ketidakadilan yang diderita penduduk asli Jawa, ia menerbitkan sebuah buku berjudul “Max Havelaar” menggunakan nama samaran Multatuli (dari bahasa Latin: multa tuli "saya telah banyak menderita") untuk melaporkan kekejaman yang dilakukan oleh tentara pendudukan Belanda. Buku tersebut mengejutkan masyarakat Eropa yang pada saat itu sebagian besar masih belum menyadari kekejian yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dagang Belanda di Timur Jauh.

Contoh lainnya adalah Satoshi Nakamoto, nama samaran yang digunakan oleh pendiri Bitcoin. Setelah krisis keuangan global pada 2008, ia mengusulkan mata uang alternatif yang tidak diatur oleh entitas pusat, tetapi oleh masyarakat melalui teknologi buku besar terdesentralisasi yang dienkripsi. Jika ia menerbitkan Bitcoin menggunakan nama aslinya, sebagian besar serangan mungkin ditujukan pada identitas pribadinya. Ia juga akan rentan terhadap risiko intimidasi dan kekerasan untuk menekan idenya. Sebaliknya, dengan nama samaran, diskusi dan perhatian diarahkan pada teknologi dan aplikasi Bitcoin itu sendiri. Mengikuti Nakamoto, ekosistem kripto kini telah sepenuhnya menganut budaya identitas samaran; tidak jarang kita melihat produk De-fi atau kripto yang pendirinya menggunakan identitas samaran beserta katak atau gunung es sebagai avatarnya.

Contoh yang lebih kekinian adalah akun gosip Twitter asal Indonesia, Lambe Turah. Muncul entah dari mana, akun ini menggemparkan masyarakat dengan membeberkan rahasia di balik layar kalangan selebriti Indonesia. Seringkali akurat, tweet dari akun ini dianggap lebih kredibel dan meraih lebih banyak keterlibatan dibandingkan acara infotainment yang diproduksi TV. Dalam industri hiburan, streamer pseudonim generasi baru yang disebut YouTuber virtual berkembang pesat. Alih-alih menggunakan wajah asli, mereka menggunakan avatar bergaya anime dengan pengaturan pelacak gerak untuk melibatkan pemirsa mereka.

Dengan teknologi, identitas samaran dapat ditingkatkan lebih jauh lagi. Identitas samaran sekarang dapat memiliki alamat virtual permanen untuk keperluan saluran komunikasi yang konstan. Bagi dunia kerja, sifat pekerjaan yang semakin terpencil membuka peluang bagi identitas samaran untuk melaksanakan berbagai pekerjaan jenis baru. Ketika interaksi tatap muka melalui panggilan virtual diperlukan, identitas samaran dapat dengan mudah memanfaatkan teknologi, seperti filter dan teknologi VR untuk mengubah wajah dan suara.

Manjadi “Uncancellable”

Meskipun saat ini kebebasan berbicara adalah hak yang ditawarkan hampir di mana-mana, identitas samaran juga menawarkan kebebasan setelah berbicara. Lawan harus menyerang ide kita; mereka tidak bisa menyerang kita. Ini memaksa diskusi untuk diarahkan ke ide, bukan identitas pribadi.

Pada zaman ini, tindakan sederhana seperti membagikan artikel politik dapat memiliki akibat yang tidak terduga, mulai dari dikeluarkan dari grup sosial hingga konsekuensi yang lebih parah seperti kehilangan teman, pekerjaan, atau sponsor. Namun, ketika artikel tersebut dibagikan menggunakan identitas samaran, sang individu praktis menjadi kebal. Identitas samaran dapat dikelilingi oleh segala macam serangan negatif, tetapi pemiliknya sendiri tak tergores sedikit pun, membuatnya "uncancellable".

Pada akhirnya, identitas samaran hanya sebuah alat yang dapat digunakan baik untuk tujuan positif maupun negatif. Dilema etika dan moral identitas samaran masih dieksplorasi secara aktif dan konsekuensinya terus diperdebatkan.

Namun, sebagai individu yang terus-menerus terpapar pada risiko serangan online dan kebocoran data yang terus meningkat, gagasan untuk memiliki lapisan perlindungan tambahan melalui identitas samaran semakin masuk akal bagi kita.


Artikel terkait


Berita